Sabtu, 20 April 2024

janjiku yang ku tepati. ku ingkari kali ini, hanya sekali (aku harap)

aku, yang katanya anak pertama.

hidup dengan pilihan sendiri memang sulit, namun tidak sesulit ketika pilihannya sudah ditentukan orang tua.(awalnya kukira begitu)

lambat laun, dunia terasa semakin sulit. nafasku mulai sesak, duniaku mulai tertekan dan aku mulai risau. tenang, ada ayah, akan selalu ada ayah di sini. 

anak ayah yang cantik, (katanya) jangan pernah menangis, akan ayah bendung air matamu, akan ayah janjikan bahagia dan senyum itu.

tidak usah takut, pilih jalanmu, berjalanlah dengan yakin ayah akan selalu mendukungmu.

jangan takut jatuh, akan ayah topang. jangan takut salah, nanti kita perbaiki bersama.

tangisku tak pernah menetes lagi, meskipun aku sakit, walaupun dunia sangat jahat, ku tepati janji itu. bahkan ketika jasadmu ku tuntun untuk mengucap "Allahu akbar" dan menutup mata untuk yang terakhir kalinya, hingga jasadmu sudah masuk liang lahat, tangisku tak turun

ayah, sekarang duniaku mulai kacau, perasaanku tak karuan, hatiku patah dan pikiranku berantakan.

untuk janjimu yang selalu kau tepati, cintamu yang tak pernah padam dan kebahagianku yang selalu kau berikan. bisakah itu kembali? bahkan hanya untuk sekali (lagi). 

(maaf ayah, ku ingkari janjiku sekali ini saja. namun bagaimana cara untuk menutup keran air mata setelah ini?)

Minggu, 27 Agustus 2023

Duniaku yang akan selalu baik-baik saja

Beberapa hari yang lalu, ayah mengeluh sakit. Mengeluh meriang dan merasa pusing yang hebat. Awalnya biasa saja, beliau memang sering tidak tidur malam dan terlambat makan namun minum obat yang biasa dikonsumsi sesuai resep dokter biasanya langsung sehat.  Namun berbeda, kali ini ayah harus masuk ruang rawat inap, sudah semalam dia di sana dan aku langsung bergegas menemuinya. 

Kami berbeda kota, setelah satu tahun aku menyelesaikan studiku di Bandung, aku masih berdiam di Bandung sembari mencari pekerjaan dan menjadi asisten dosen. Ayah yang dari dulu bekerja di Tasik semenjak aku kecil masih mengabdikan dirinya di sana, membantu orang-orang yang membutuhkan dan menjadi pelopor kegiatan kemanusiaan khususnya dibidang kesehatan.

Setelah sampai di sana menggunakan kereta, aku dijemput oleh temanku menggunakan sepeda motornya, orang yang selama ini menemaniku saat berkuliah dulu yang sekarang sudah menemukan pujaan hati yang diharapkan orangtuanya dan pasti bukan aku. 

Aku telah bertemu ayah, di rumah sakit, ia terbaring lemah dengan badan yang mengurus dari badannya yang semula gemuk. Ia menanyakan kabarku dan menyambutku, bertanya apakah aku sudah makan dan bagaimana perjalananku, padahal ia yang sakit, ia yang harusnya mengkhawatirkan dirinya sendiri. Aku berpelukan dengannya, sembari menghilangkan rasa rinduku sambil mendoakan agar ia selalu sehat dan terus ada bersamaku.

Dua malam sudah aku menemani ayah yang terbaring di kasur rumah sakit, di sepertiga malam, ia terbangun dan meringkih kesakitan, aku hanya memeluknya, mengusap kepala dan punggungnya sambil terus ber-istighfar yang membersamai ucapan istighfar ayahku. 

5 Agustus 2023, ayahku memutuskan untuk melakukan hemodialisa, yang awalnya sudah direkomendasikan dokter, namun ia sempat menolak berharap bisa disembuhkan dengan obat, namun nyatanya rasa sakit tidak bisa berbohong, kesulitan bernafas dan merasa pengap ia rasakan sendiri sehingga memutuskan untuk cuci darah. Ayah diagnosa gagal ginjal rupanya, namun tidak hanya itu, ia pernah memiliki riwayat struk ringan pada saat aku masih duduk di kelas 5 sd, kurang lebih dua tahun dan berdampak pada jantungnya yang bekerja hanya sekitar 25% pada bagian kiri. Sedih melihatnya, tapi apa yang harus ku lakukan? Hanya menangis dan berdoa.

Malamnya, ibuku datang dari sukabumi dengan angkutan umum. Kedatangannya membuat haru, bagaimana tidak pasangan suami istri yang tetimpa musibah seperti ini pasti saling menguatkan dan saling bertukar rasa sayang bahwa “tenang, sakitmu adalah sakitku yang mari kita tanggung bersama keadaanya” itu yang aku rasakan. 

2 minggu yang lalu, aku dinyatakan diterima di salah satu universitas ternama untuk magisterku. Hari ini adalah hari terakhir untuk melakukan pembayaran masuk, jumlahnya tidak kecil dan aku berniat untuk tidak melanjutkannya, sebagai anak pertama aku ingin menggantikan posisi ayahku untuk mencari nafkah keluarga, karena adikku juga berkuliah dan satunya akan naik kelas 6 sd. Namun di sore hari yang sunyi, ayah dan ibuku berdiskusi tentang uang kuliahku, aku mendengarnya meskipun mereka menggunakan suara pelan agar tidak terdengar olehku. Ayah kemudian memanggil pelan “ka, hari ini terakhir pembayaran kuliah kan?” Ayah bertanya untuk memastikan, “iya” jawabku pelan, lalu aku tambah jawabanku “gausah ayah, biar kaka kerja aja, kaka gaharus s2” begitu tambahku. Lalu suasana hening, ayahku tersenyum “engga, kaka udah berusaha untuk masuk kesana, lagian temen kaka udah pada tau kaka kuliah, kalo kaka ga lanjut, nanti kaka malu “ jawabnya dengan tenang. Aku kemudian menghampiri ayah dan ibu sambil tersenyum namun tangis tak bisa terbendung “gapapa ayah, bukan soal gengsi atau malu, tapi kaka gamau menjadi beban dan menyulitkan kalian” semua terdiam oleh jawabanku, kemudian kami berpelukan, ibuku yang sedari tadi diam mengusap kepalaku “ka, kuliah, gapapa, kaka gapernah menjadi beban, gapernah menyulitkan, pasti ada jalan dan kemudahan” ucap ibu sambil menangis. Kemudian kami masih berpelukan sambil menangis.

Selang beberapa lama, terbayarlah kuliahku. Dengan jumlah yang tidak sedikit, ayah bayarkan tagihannya, dan aku sudah sah menjadi mahasiswa s2. 

Ayah, mamah, terimakasih. Pada waktu terpuruk sekalipun, tidak pernah menyerah dan selalu ada. Pada waktu yang tidak pernah tau kapan berhenti, cinta dan kasih sayang kalian adalah alasan mengapa aku harus terus berusaha.

Sejak saat itu, tidak pernah adalagi yang bisa membuatku menangis lebih hebat, karena dunia ini akan selalu baik baik saja pada pelukan kedua orang tuaku.

Rabu, 23 Agustus 2023

Pada waktunya

 Hai, apakabar teman? 

Ku lihat kau sangat sehat, senang sekarang kan? Tenang hati dan banyak bahagiamu nampaknya. Selamat ya, ikut senang melihatnya. 

Sudah lama tidak saling sapa, sangat sulit tanganku mengetuk kontakmu untuk bertanya sekedar kabar, bukan tentang kebahagiaanmu yang sudah aku lihat dari story-mu itu. Aku bertanya kabar dirimu yang dalam, yang tidak pernah kau bagikan atau bahkan yang tidak pernah kau ungkapkan pada cermin yang kau lihat setiap harinya. 

Tapi apa boleh buat, aku beranikan diri ini, aku bertanya pada kolom chat kontak, dan tidak lama ponselku berbunyi karena panggilan video masuk, temanku! Haha sudah lama sekali. Ku kenakan jilbabku dan ku angkat telponnya, sapanya ringan “bagaimana kabarmu? Studimu lancar bukan? Kapan lulus?” Selalu ditanyakan hingga bosan ku jawab studiku masih harus berlangsung satu tahun lagi. 

Dilanjutkan cerita ringan lainnya tentang pekerjaanya yang sangat lancar namun melelahkan hingga ada tawaran di tempat lain melalui kenalan lamanya. Awalnya ku ragu, karena dia yang selalu takut untuk melangkah dan mencoba hal baru, namun dia orang yang mau berusaha dan tidak pernah menolak sebelum mencoba. Temanku yang hebat nan mengagumkan, terimakasih karena selalu berusaha dan mencoba ya, kamu keren!

Tidak lama ku tanya mengenai kisah cintanya, haha dia sudah sangat ingin melanjutkan ke jenjang serius dengan pasangannya, namun masih banyak yang harus dipersiapkan karena ibadah ini adalah yang harus paling siap, seumur hidup. Tapi tak apa teman, tidak usah terburu-buru persiapkanlah dengan matang, biarkan datang pada waktu yang tidak akan pernah kau sesali nantinya.

Dibalasnya dengan menanyakan keluargaku, terutama ayah (karena ayahku cukup akrab dengannya) ia tanya tentang keadaanya, aku jawab begitu saja kondisinya karena aku jawab tak sanggup bercerita jika soal ayah. Ia timpa dengan pertanyaan lain mengenai kisah cintaku, karena aku belum ada pasangan, ya bagaimana akupun mencari dan menunggu. Namun tetap ia tanyakan temanku yang selalu dipasangkannya denganku (padahal aku menolak keras karena banyak hal yang tidak bisa aku toleransi tentangnya dan ditambah aku dan dia sedang bertengkar hebat karena hal yang bisa dibicarakan dengan baik menurutku). Kemudian ia tanya teman lama kami yang pernah dekat denganku, kujawab tak tahu karena memang aku sudah menutup informasi tentangnya, “dia sudah ada pacar” jawabku singkat, karena itu informasi terakhir yang kutau dan yang ku mau tau tentang dia, selebih dan selanjutnya biarkan informasi umum saja tentangnya yang melintas, bukan lagi prioritas dalam hidupku. Namun dia tetap bertanya tentang aku dan dia, tapi tidak bisa, masalahku dan dia biarkan masalah kami dan oranglain tidak perlu tau, tidak perlu ikut andil dalam hidup kami yang sudah jauh ini.

Sedikit banyak aku bercengkrama, membahas beberapa poin kehidupan dan berbagi kegelisahan hati, mungkin kami juga iri dengan kesuksesan masing-masing (terlebih aku yang belum menjadi apa-apa) mereka yang sudah bertunangan, menikah, menjadi direktur, bergelimang harta, pergi dalam-luar negeri dan melakukan apapun yang mereka mau. Tapi biarlah, jadikan itu motivasi bagi masing-masing dari kami, biarkan kami tumbuh dan sukses sebagaimana kami harapkan, pada saatnya yang baik dan pada waktunya.


Ku tutup ponselku, berdiam diri dan menarik nafas cukup panjang. Lalu menetes air mataku cukup deras, pada waktu yang tepat teman, kau akan sukses dan lebih dari itu tangisku terus menerus tidak tebendung ternyata aku merindukan temanku.


Lalu bagaimana kami selanjutnya? Lihat saja di-“waktunya” nanti. 

Minggu, 06 Agustus 2023

Tidak Semua Orang Seberuntung Kamu

 Aku pernah membersamai seseorang yang selanjutnya tujuan akhirnya bukan Aku, bertahan atas dasar kasih dan cinta yang aku simpan selama ini.

Setelah itu, tidak pernah lagi aku mau mendengar nama dan hadirnya. Sebisa mungkin untuk menghindari segala hal yang berhubungan dengan dirinya. Bukan karena aku tidak ikhlas atau masih ingin bersamanya, tapi aku bahkan sudah bisa merelakan dengan caraku sendiri, tidak mau melibatkan orang lain di dalamnya. Aku tidak pernah mau pergi dari siapapun, bahkan biasa aku hanya diam dan membiarkan siapapun yang tak mau disisiku lagi pergi begitu saja. 

Tapi ternyata satu ini berbeda, setelah dia pergi aku masih menangisinya di 2 minggu awal, terbangun dan menangis bahkan sesaat sebelum keberangkatanku berkuliah. Hingga suatu hal yang menyadarkanku, bahwa sakit hati yang aku alami adalah sakit hati orangtuaku yang lebih dalam, dikecewakan oleh orang yang selama ini dianggapnya adalah pagar penjagaan terdepan untuk anaknya.

Banyak hal yang ternyata “cinta sebodoh itu” tidak pernah ada kata baik terhadapku dihadapan orangtuanya, membohongi bahwa barang yang kuberikan adalah pembeliannya dengan alasan “keluargaku tidak akan suka aku menerima barang pemberian orang lain”. Maksudku, sebagai hadiah? Keluarga mana yang tak suka anaknya diperlakukan baik oleh orang lain? Orang tuaku mengajarkan memberikan yang terbaik ketika diberi oleh orang lain, apapun konteksnya, barang, jasa atau bahkan sekedar pujian. Kita harus membalasnya. Sampai terpikir mungkin yang dimaksud tidak akan suka adalah hadiah dariku, karena orangtuanya hanya ingin ia bersama orang yang memiliki background pendidikan kesehatan, bukan sepertiku.

Setelah aku mendengar ia menemukan seseorang yang pantas untuknya dan keluarganya, aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya, tapi sesekali dia menghubungiku untuk berdiskusi tentang pencapaiannya (selama ini hanya aku partner dia untuk diskusi pada jenjang karir) karena dia orang yang sulit bergaul dan tidak menyukai keramaian meskipun baik secara personal.

Saat itu aku sedang buntu, ingin meminta tolong sesuatu dan aku pikir hanya dia yang bisa membantuku, tapi responnya kurang baik dengan alasan “aku sudah punya wanita dan aku ingin menghargainya (dengan tidak membantuku)” lalu aku hanya menangis, karena kecewaku atas satu harapan bantuan yang tak datang pada orang yang selalu aku bantu. Tak lama ayahku menelpon, tak ada tujuan, hanya karena rindu alasannya. Aku bercerita tentang hal ini, karena aku dan ayahku cukup dekat, dia hanya diam dan mendukung keputusanku untuk tidak pernah menghubunginya atau tau keadaanya.

Aku dan ayah cukup memiliki kesamaan, terlebih dalam urusan menghargai keputusan, tidak mau mendengar nama seseorang bukan karena membenci namun karena sudah tidak mau memiliki hubungan bahkan untuk sekedar sapa dan tau kabar atau istilahnya meng-cut kehidupan seseorang.

Setelah beberapa lama, dia kembali menghubungiku, alasannya ringan “hanya ingin sedikit bercerita, berdiskusi dan meminta saran pada pekerjaanya” tapi aku tidak bisa lagi, aku  juga ingin menghargai “wanitanya” makanya higga saat ini tak ada satupun pesan atau panggilannya yang aku jawab, mungkin tidak akan pernah lagi.

Sampai saatnya, aku pergi  menemui temanku yang terakhir kali karena harus disemayamkan. Aku berkumpul besama teman-temanku yang lain, mengdengar cerita mereka yang sudah bekerja (aku melanjutkan studiku) sangat seru, ada juga yang sudah bertunangan dan bercerita persiapan pernikahan yang sangat rumit itu. Dan terdengar ada seseorang yang akan menyusul karena baru pulang dari cutinya, yap dia adalah orang yang sebelumnya kuceritakan, lalu temanku yang sudah bertunangan berbicara dengan nada yang meremehkan “Kenapa ga jadi istri keduanya aja?” Aku sontak terdiam. Maksudku, hello? Aku mungkin memang pernah mencintainya dengan sepenuh hatiku, tapi tidak dengan hari ini. Dan menjadi istri kedua? Mungkin istri kedua di dunia ini tidak pernah bercita-cita menjadi istri kedua, kan?

Aku memang tidak seberuntung dirimu dibagian pasangan, kamu bisa dengan mudah mendapatkan pasanganmu sekarang, tapi bukan berarti kamu bebas memasangkan dan menjatuhkan hukuman menjadi istri kedua pada orang yang ditinggalkan seseorang yang dicintainya. Ada yang namanya do’a buruk bukan? Katanya doa orang teraniaya itu diijabahnya langsung, bagaimana jika aku berdo’a buruk padamu? Untuk memberitahu bagaimana rasanya ditinggalkan dan dijatuhkan hukuman oleh orang yang lebih beruntung dalam hal kesulitanmu! Tapi tidak, Tuhan punya hal yang lebih baik bagi setiap orang, semoga kamu, aku dan kita semua akan selalu diberikan kemudahan dan diberikan akal pikiran sehat dalam menjaga perkataan yang baik dan tidak menjadi bumerang bagi diri sendiri. 

Tidak semua orang seberuntung kamu, tapi setiap dari kita selalu punya bagian lebih baik dari orang lain. Jangan terlalu bahagia, bisa jadi hanya sesaat.

Minggu, 30 Juli 2023

Waktunya pulang

 “Pergi yang jauh” Ada yang bilang, kita harus pergi jauh dari rumah untuk mencari jati diri kita, mencari dan menentukan langkah yang akan membuat dunia kita berubah. Menjadi lebih baik tentunya.

Ada yang bilang, kita harus banyak bercengkrama dengan dunia, bisa jadi menemukan jawaban dari pertanyaan kosong nan samar selama ini. 

Tidak pernah ada yang bilang akan mudah, karena nyatanya sulit. Ditambah lagi dunia yang sulit ditebak, banyak yang datang lalu hilang, banyak yang dekat namun berkhianat dan tidak sedikit yang ramah ternyata menyakiti.

Pada akhirnya, sejauh mana kaki kita akan melangkah?

Sabtu, 29 Juli 2023

bukan salahmu.

Kepada malam yang luas, kosong tanpa bintang.

Yang sepi dan dingin, namun ribut gemuruh tangis dalam pikiran.


Kepada matahari di siang tanpa meminta lebih terang.

Namun nyatanya belum ada ikhlas yang sepenuhnya.


Kepada puncak indah kebahagiaan yang menyelimuti kasih.

Tidak sekalipun terlintas akan hiruk pikuk kesedihan yang mendalam.


Nyatanya, tidak ada yang salah, tidak pernah ada yang menyakiti.

Hadirnya kesalku, amarah dan kesedihan ini bukan dengan alasan.


Pada saatnya, seluruh hatiku penuh rasa, cinta dan harap.

Sayangnya, aku lupa.

Menyisihkan sebagian kecil dari hatiku, untuk menerima rasa kecewa.

Selasa, 13 Maret 2018

Satu, dua, tiga. Setiap detik dan detak, Yang acak dan mungkin retak. Pernah, Searah dengan gairah, Ramah dan cerah. Hanya dulu, Dunia jauh dari abu, Dulu kayu, Mungkin bambu, Tapi dulu. Hari, Hati, Berlari dan menari, Pelangi? atau sudah mati?