Beberapa hari yang lalu, ayah mengeluh sakit. Mengeluh meriang dan merasa pusing yang hebat. Awalnya biasa saja, beliau memang sering tidak tidur malam dan terlambat makan namun minum obat yang biasa dikonsumsi sesuai resep dokter biasanya langsung sehat. Namun berbeda, kali ini ayah harus masuk ruang rawat inap, sudah semalam dia di sana dan aku langsung bergegas menemuinya.
Kami berbeda kota, setelah satu tahun aku menyelesaikan studiku di Bandung, aku masih berdiam di Bandung sembari mencari pekerjaan dan menjadi asisten dosen. Ayah yang dari dulu bekerja di Tasik semenjak aku kecil masih mengabdikan dirinya di sana, membantu orang-orang yang membutuhkan dan menjadi pelopor kegiatan kemanusiaan khususnya dibidang kesehatan.
Setelah sampai di sana menggunakan kereta, aku dijemput oleh temanku menggunakan sepeda motornya, orang yang selama ini menemaniku saat berkuliah dulu yang sekarang sudah menemukan pujaan hati yang diharapkan orangtuanya dan pasti bukan aku.
Aku telah bertemu ayah, di rumah sakit, ia terbaring lemah dengan badan yang mengurus dari badannya yang semula gemuk. Ia menanyakan kabarku dan menyambutku, bertanya apakah aku sudah makan dan bagaimana perjalananku, padahal ia yang sakit, ia yang harusnya mengkhawatirkan dirinya sendiri. Aku berpelukan dengannya, sembari menghilangkan rasa rinduku sambil mendoakan agar ia selalu sehat dan terus ada bersamaku.
Dua malam sudah aku menemani ayah yang terbaring di kasur rumah sakit, di sepertiga malam, ia terbangun dan meringkih kesakitan, aku hanya memeluknya, mengusap kepala dan punggungnya sambil terus ber-istighfar yang membersamai ucapan istighfar ayahku.
5 Agustus 2023, ayahku memutuskan untuk melakukan hemodialisa, yang awalnya sudah direkomendasikan dokter, namun ia sempat menolak berharap bisa disembuhkan dengan obat, namun nyatanya rasa sakit tidak bisa berbohong, kesulitan bernafas dan merasa pengap ia rasakan sendiri sehingga memutuskan untuk cuci darah. Ayah diagnosa gagal ginjal rupanya, namun tidak hanya itu, ia pernah memiliki riwayat struk ringan pada saat aku masih duduk di kelas 5 sd, kurang lebih dua tahun dan berdampak pada jantungnya yang bekerja hanya sekitar 25% pada bagian kiri. Sedih melihatnya, tapi apa yang harus ku lakukan? Hanya menangis dan berdoa.
Malamnya, ibuku datang dari sukabumi dengan angkutan umum. Kedatangannya membuat haru, bagaimana tidak pasangan suami istri yang tetimpa musibah seperti ini pasti saling menguatkan dan saling bertukar rasa sayang bahwa “tenang, sakitmu adalah sakitku yang mari kita tanggung bersama keadaanya” itu yang aku rasakan.
2 minggu yang lalu, aku dinyatakan diterima di salah satu universitas ternama untuk magisterku. Hari ini adalah hari terakhir untuk melakukan pembayaran masuk, jumlahnya tidak kecil dan aku berniat untuk tidak melanjutkannya, sebagai anak pertama aku ingin menggantikan posisi ayahku untuk mencari nafkah keluarga, karena adikku juga berkuliah dan satunya akan naik kelas 6 sd. Namun di sore hari yang sunyi, ayah dan ibuku berdiskusi tentang uang kuliahku, aku mendengarnya meskipun mereka menggunakan suara pelan agar tidak terdengar olehku. Ayah kemudian memanggil pelan “ka, hari ini terakhir pembayaran kuliah kan?” Ayah bertanya untuk memastikan, “iya” jawabku pelan, lalu aku tambah jawabanku “gausah ayah, biar kaka kerja aja, kaka gaharus s2” begitu tambahku. Lalu suasana hening, ayahku tersenyum “engga, kaka udah berusaha untuk masuk kesana, lagian temen kaka udah pada tau kaka kuliah, kalo kaka ga lanjut, nanti kaka malu “ jawabnya dengan tenang. Aku kemudian menghampiri ayah dan ibu sambil tersenyum namun tangis tak bisa terbendung “gapapa ayah, bukan soal gengsi atau malu, tapi kaka gamau menjadi beban dan menyulitkan kalian” semua terdiam oleh jawabanku, kemudian kami berpelukan, ibuku yang sedari tadi diam mengusap kepalaku “ka, kuliah, gapapa, kaka gapernah menjadi beban, gapernah menyulitkan, pasti ada jalan dan kemudahan” ucap ibu sambil menangis. Kemudian kami masih berpelukan sambil menangis.
Selang beberapa lama, terbayarlah kuliahku. Dengan jumlah yang tidak sedikit, ayah bayarkan tagihannya, dan aku sudah sah menjadi mahasiswa s2.
Ayah, mamah, terimakasih. Pada waktu terpuruk sekalipun, tidak pernah menyerah dan selalu ada. Pada waktu yang tidak pernah tau kapan berhenti, cinta dan kasih sayang kalian adalah alasan mengapa aku harus terus berusaha.
Sejak saat itu, tidak pernah adalagi yang bisa membuatku menangis lebih hebat, karena dunia ini akan selalu baik baik saja pada pelukan kedua orang tuaku.