Rabu, 23 Agustus 2023

Pada waktunya

 Hai, apakabar teman? 

Ku lihat kau sangat sehat, senang sekarang kan? Tenang hati dan banyak bahagiamu nampaknya. Selamat ya, ikut senang melihatnya. 

Sudah lama tidak saling sapa, sangat sulit tanganku mengetuk kontakmu untuk bertanya sekedar kabar, bukan tentang kebahagiaanmu yang sudah aku lihat dari story-mu itu. Aku bertanya kabar dirimu yang dalam, yang tidak pernah kau bagikan atau bahkan yang tidak pernah kau ungkapkan pada cermin yang kau lihat setiap harinya. 

Tapi apa boleh buat, aku beranikan diri ini, aku bertanya pada kolom chat kontak, dan tidak lama ponselku berbunyi karena panggilan video masuk, temanku! Haha sudah lama sekali. Ku kenakan jilbabku dan ku angkat telponnya, sapanya ringan “bagaimana kabarmu? Studimu lancar bukan? Kapan lulus?” Selalu ditanyakan hingga bosan ku jawab studiku masih harus berlangsung satu tahun lagi. 

Dilanjutkan cerita ringan lainnya tentang pekerjaanya yang sangat lancar namun melelahkan hingga ada tawaran di tempat lain melalui kenalan lamanya. Awalnya ku ragu, karena dia yang selalu takut untuk melangkah dan mencoba hal baru, namun dia orang yang mau berusaha dan tidak pernah menolak sebelum mencoba. Temanku yang hebat nan mengagumkan, terimakasih karena selalu berusaha dan mencoba ya, kamu keren!

Tidak lama ku tanya mengenai kisah cintanya, haha dia sudah sangat ingin melanjutkan ke jenjang serius dengan pasangannya, namun masih banyak yang harus dipersiapkan karena ibadah ini adalah yang harus paling siap, seumur hidup. Tapi tak apa teman, tidak usah terburu-buru persiapkanlah dengan matang, biarkan datang pada waktu yang tidak akan pernah kau sesali nantinya.

Dibalasnya dengan menanyakan keluargaku, terutama ayah (karena ayahku cukup akrab dengannya) ia tanya tentang keadaanya, aku jawab begitu saja kondisinya karena aku jawab tak sanggup bercerita jika soal ayah. Ia timpa dengan pertanyaan lain mengenai kisah cintaku, karena aku belum ada pasangan, ya bagaimana akupun mencari dan menunggu. Namun tetap ia tanyakan temanku yang selalu dipasangkannya denganku (padahal aku menolak keras karena banyak hal yang tidak bisa aku toleransi tentangnya dan ditambah aku dan dia sedang bertengkar hebat karena hal yang bisa dibicarakan dengan baik menurutku). Kemudian ia tanya teman lama kami yang pernah dekat denganku, kujawab tak tahu karena memang aku sudah menutup informasi tentangnya, “dia sudah ada pacar” jawabku singkat, karena itu informasi terakhir yang kutau dan yang ku mau tau tentang dia, selebih dan selanjutnya biarkan informasi umum saja tentangnya yang melintas, bukan lagi prioritas dalam hidupku. Namun dia tetap bertanya tentang aku dan dia, tapi tidak bisa, masalahku dan dia biarkan masalah kami dan oranglain tidak perlu tau, tidak perlu ikut andil dalam hidup kami yang sudah jauh ini.

Sedikit banyak aku bercengkrama, membahas beberapa poin kehidupan dan berbagi kegelisahan hati, mungkin kami juga iri dengan kesuksesan masing-masing (terlebih aku yang belum menjadi apa-apa) mereka yang sudah bertunangan, menikah, menjadi direktur, bergelimang harta, pergi dalam-luar negeri dan melakukan apapun yang mereka mau. Tapi biarlah, jadikan itu motivasi bagi masing-masing dari kami, biarkan kami tumbuh dan sukses sebagaimana kami harapkan, pada saatnya yang baik dan pada waktunya.


Ku tutup ponselku, berdiam diri dan menarik nafas cukup panjang. Lalu menetes air mataku cukup deras, pada waktu yang tepat teman, kau akan sukses dan lebih dari itu tangisku terus menerus tidak tebendung ternyata aku merindukan temanku.


Lalu bagaimana kami selanjutnya? Lihat saja di-“waktunya” nanti. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar